Lewati ke konten utama
Muda laki-laki di gim dengan ekspresi fokus, di sekitar beban dan peralatan olahraga, menampilkan campuran otot yang tonik dan tidak terbentuk

Bigorexia: Ketika Obsesi Otot Berubah Menjadi Gangguan Kesehatan Mental

Nisa Saraswati
bigorexiamuscle dysmorphiaobsesi ototgangguan kesehatan mentalcitra tubuh

Memiliki tubuh atletis dan berotot seringkali menjadi idaman banyak pria. Berbagai cara pun ditempuh, mulai dari latihan beban intensif, diet ketat tinggi protein, hingga suplemen. Namun, bagaimana jika keinginan ini berkembang menjadi obsesi yang tidak sehat, bahkan membuat seseorang merasa tubuhnya tidak pernah cukup berotot, padahal sudah kekar? Kondisi inilah yang dikenal sebagai bigorexia, atau muscle dysmorphia, sebuah gangguan kesehatan mental serius.

Mengenal Bigorexia: Obsesi Berlebihan pada Otot (Muscle Dysmorphia)

Bigorexia adalah bentuk spesifik dari body dysmorphic disorder (BDD), yaitu gangguan jiwa yang ditandai dengan obsesi kuat terhadap citra tubuh negatif. Seseorang dengan bigorexia memiliki pandangan terdistorsi tentang tubuhnya sendiri, merasa tidak cukup besar atau berotot, meskipun secara objektif mereka sudah memiliki fisik yang sangat kekar. Kondisi ini paling sering dialami oleh laki-laki, terutama remaja hingga dewasa muda, dan sering ditemukan pada binaragawan.

Menurut American Psychiatric Association (APA), BDD, termasuk bigorexia, menyebabkan penderitanya menghabiskan waktu berjam-jam untuk memikirkan kekurangan fisik yang mereka rasakan. Orang yang mengalami bigorexia cenderung melakukan olahraga berlebihan hingga cedera, menjalani diet ekstrem yang tidak sehat, sering bercermin dengan pandangan negatif, dan bahkan menyalahgunakan obat steroid yang berbahaya bagi kesehatan. Dalam kasus yang parah, obsesi ini bisa memicu pikiran untuk bunuh diri karena merasa gagal mencapai tubuh ideal.

Apa Saja Pemicu Bigorexia?

Penyebab pasti bigorexia memang belum sepenuhnya diketahui, namun kombinasi faktor psikologis, sosial, dan biologis diyakini berperan dalam pembentukan citra tubuh negatif yang obsesif ini. Berikut beberapa pemicunya:

1. Pengalaman Traumatis atau Perundungan

Pengalaman masa lalu seperti pelecehan, perundungan (bullying), atau penghinaan terkait penampilan fisik, terutama saat remaja, dapat memicu gangguan citra tubuh. Masa remaja adalah periode sensitif di mana seseorang sangat rentan terhadap kritik dan perubahan fisik, sehingga pengalaman negatif bisa meninggalkan dampak mendalam.

2. Pengaruh Media Sosial dan Standar Kecantikan yang Tidak Realistis

Media sosial, film, dan iklan seringkali menyajikan gambaran tubuh pria yang sangat berotot sebagai standar ideal maskulinitas dan daya tarik. Paparan terus-menerus terhadap citra ini dapat menciptakan tekanan bagi pria untuk mencapai standar yang seringkali tidak realistis, mendorong obsesi untuk membentuk otot demi penerimaan sosial.

3. Tekanan dari Lingkungan Sosial

Lingkungan pertemanan, keluarga, atau kelompok sosial yang sangat mengedepankan penampilan fisik dapat membuat seseorang merasa tertekan untuk memiliki bentuk tubuh yang ideal. Sebuah studi dalam jurnal Psychiatry Research bahkan menunjukkan bahwa tekanan sosial untuk memiliki tubuh berotot berkorelasi dengan dorongan untuk menjadi lebih berotot dan memicu gejala muscle dysmorphia.

4. Konsep Maskulinitas Toksik

Budaya maskulinitas toksik menuntut pria untuk selalu kuat secara fisik, dominan, dan tidak menunjukkan kelemahan. Jika seorang pria merasa tidak memenuhi ciri-ciri ini, misalnya tidak berotot atau kurang kuat, ia bisa merasa terpinggirkan dan mengalami krisis identitas. Perasaan ini kemudian mendorong upaya ekstrem untuk mencapai atribut maskulin yang dianggap ideal, yang dapat berujung pada bigorexia.

5. Sifat Perfeksionis

Individu dengan sifat perfeksionis cenderung memiliki standar yang sangat tinggi untuk diri sendiri, termasuk dalam hal penampilan fisik. Mereka merasa tertekan jika tidak dapat memenuhi ekspektasi yang telah mereka tetapkan, dan akan melakukan segala cara untuk mencapai gambaran ideal tubuh yang ada di pikiran mereka.

6. Adanya Gangguan Kesehatan Mental Lain

Studi dalam jurnal Psychology Research and Behavior Management menunjukkan bahwa orang dengan bigorexia seringkali memiliki riwayat gangguan mental lain, seperti eating disorder (gangguan makan), kecemasan, atau depresi. Mereka mungkin menggunakan upaya berlebihan untuk mengubah penampilan tubuh sebagai mekanisme koping terhadap perasaan cemas atau tidak bahagia tersebut.

Langkah Mengatasi Bigorexia dan Mendapatkan Bantuan Profesional

Muscle dysmorphia seringkali sulit disadari oleh penderitanya, sehingga mereka cenderung menghindari pembicaraan tentang gejala yang dialami. Jika Anda atau orang terdekat mulai menunjukkan tanda-tanda obsesi berlebihan terhadap otot yang mengganggu kehidupan sehari-hari, sangat penting untuk mencari bantuan. Langkah pertama adalah berbicara dengan orang terdekat yang Anda percaya dan selalu memberikan dukungan.

Namun, untuk penanganan yang efektif, konsultasi dengan profesional kesehatan mental seperti psikiater atau psikolog sangat dianjurkan. Para ahli kesehatan mental, termasuk yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan RI dalam upaya menjaga kesehatan mental, akan membantu menentukan pendekatan perawatan yang paling sesuai.

Pendekatan Terapi Psikologis

  • Terapi Perilaku Kognitif (CBT): Terapi ini berfokus pada identifikasi dan perubahan pola pikir serta perilaku negatif terkait citra tubuh. Pasien diajari cara mengelola obsesi dan mengembangkan pandangan yang lebih sehat tentang diri mereka.

Dukungan Obat-obatan

  • Antidepresan Golongan SSRI: Psikiater mungkin meresepkan obat-obatan seperti Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRI) untuk membantu mengurangi gejala kecemasan atau depresi yang sering menyertai bigorexia, mendukung efektivitas terapi psikologis.

Pengobatan bigorexia membutuhkan waktu, kesabaran, serta dukungan kuat dari keluarga dan teman. Dengan kombinasi terapi yang tepat dan lingkungan yang suportif, penderita bigorexia dapat belajar mengelola kondisi mereka dan menjalani hidup yang lebih sehat dan seimbang.

Bigorexia adalah gangguan kesehatan mental yang ditandai dengan obsesi berlebihan pada otot, seringkali dipicu oleh faktor psikologis dan sosial. Kondisi ini dapat diatasi melalui terapi perilaku kognitif dan dukungan obat-obatan di bawah bimbingan profesional kesehatan mental.


Disclaimer: Artikel ini hanya bersifat informatif dan tidak menggantikan konsultasi medis profesional. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan dokter atau ahli kesehatan yang berkualifikasi.

Tags:

Tentang Penulis

Nisa Saraswati

Penulis spesialis nutrisi dan diet. Memiliki ketertarikan mendalam pada pola makan nabati (plant-based) dan gaya hidup holistik.

Lanjut Membaca

Artikel Terkait